Puputan Klungkung adalah peristiwa perlawanan rakyat
Klungkung terhadap Pemerintah kolonial Belanda yang hendak menguasai wilayah
tersebut. Perlawanan heroik yang terjadi pada tanggal 28 April 1908 itu
dipimpin oleh Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe.
Puputan
adalah istilah rakyat Bali untuk perang habis-habisan demi mempertahankan
kehormatan. Semangatnya, lebih baik mati di medan tempur dari pada hidup dengan
harga diri terinjak-injak. Dalam sejarah penaklukan Bali oleh Belanda, puputan
Klungkung adalah babak akhir dari perlawanan rakyat Bali. Menurut catatan I
Made Sujaya, memerhati sejarah Klungkung, pada babak-babak sebelumnya,
perlawanan rakyat Bali dilakukan dengan beberapa pilihan langkah. Ada yang
memilih jalan kompromi dan bekerja sama, ada yang memilih jalan mengangkat
senjata, ada juga yang memadukan keduanya. Klungkung menggunakan berbagai pilihan
jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan jalan
kerja sama, lalu mengangkat senjata (Perang Kusamba), disusul kompromi dan
diplomasi (jalinan kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan jalan
mengangkat senjata yang berujung pada puputan.
Rangkaian
babak demi babak penaklukan ini bermula dari terjadinya perpindahan kekuasaan
dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa. Bersamaan dengan itu, Raja Buleleng,
Gusti Gde Ngurah Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki
Banyuwangi di Pulau Jawa. Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di
Batavia sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris ke Buleleng pada
tahun 1814. Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng. Usaha
pemerintah Inggris ini mendapat perlawanan hebat. Tidak saja dari Raja
Buleleng, tetapi juga dari semua raja di Bali. Raja-raja lainnya di Bali
mengirimkan bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan di bagian
utara Bali itu. Raja-raja Bali itu bertekad untuk berjuang bersama menentang
agresi militer dari luar. Sikap ini merupakan pertama kalinya terjadi pada
raja-raja Bali pada masa itu.
Sikap
bersatu raja-raja Bali terbukti ampuh. Pemimpin pasukan Inggris, Jenderal
Nightingale diperintahkan Batavia untuk memundurkan pasukannya. Pemerintah
Inggris tidak bersedia berperang dengan raja-raja Bali yang mempunyai tekad
bersatu melawan musuh. Namun, tiga puluh tahun kemudian, semangat bersatu Bali
itu mengalami kemerosotan. Manakala Belanda hendak menyerang Kerajaan Buleleng
dan Karangasem gara-gara masalah perampasan kapal milik Belanda, raja-raja Bali
enggan untuk membantu kedua kerajaan itu. Bahkan, permintaan Raja Klungkung
sebagai sasuhunan (pemimpin) raja-raja Bali dan Lombok saat itu agar para raja
di Bali membantu raja Buleleng dan Karangasem, tak mendapat respons yang baik.

Inilah
awal petaka bagi keutuhan Bali. Ketidakkompakan raja-raja di Bali itu kemudian
membuat Belanda dengan mudah mencengkeram pulau ini. Pertama kali, Buleleng
takluk di kaki Belanda. Rubuhnya semangat perlawanan di Bali utara yang
terkenal kuat itu menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk menguasai kerajaan
lainnya. Setelah Buleleng, dengan mudah Belanda menaklukkan Karangasem dan
Gianyar. Belanda kemudian menggempur Badung yang mempertahankan diri dengan
melakukan perang puputan, selanjutnya menggempur Klungkung yang bertahan dengan
cara serupa.
Dewa Agung
Kanya, Srikandi Klungkung
Di Klungkung, perang puputan di atas bukanlah satu-satunya perang melawan
agresi Kolonial. Sebelumnya, tercatat sebuah perlawanan rakyat Klungkung
melawan Belanda. Perlwanan tersebut terjadi di pantai Kusamba dipimpin oleh
Ratu Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya. Dalam pertempuran yang berlangsung pada
24-25 Mei 1849 itu, Sang Ratu yang terjun langsung memimpin pasukannya berhasil
meluluhlantakkan pasukan Belanda. Bahkan Jenderal AV Michels yang memimpin
pasukan tersebut tewas dalam pertempuran itu.
Tentu hal ini sangat mengejutkan Belanda. Klungkung yang dari banyak segi tidak
sebanding dengan Belanda mampu mengimbangi dan mengalahkan pasukan Belanda.
Peristiwa Perang Kusamba ini dicatat oleh Belanda sebagai kekalahan kedua
setelah sebelumnya pasukan mereka dihancur leburkan oleh laskar Jagaraga di
bawah pimpinan Patih I Gusti Ketut Jelantik tahun 1848. Jika Anda
hendak melihat dari dekat jejak-jejak sejarah Puputan Klungkung, Anda bisa
datang ke Monumen Puputan Klungkung yang kini berdiri menjulang di tengah kota
Semarapura. Letaknya, berdekatan dengan obyek wisata Taman Gili - Kertha Gosa,
Pemedal Agung dan Museum Semarapura.
